From: Yuni Anggreini <
yuni.anggreini@gmail.com>
Date: Mar 21, 2007 1:03 AM
Subject: Oleh-oleh cerita dari Gambir dan CCF Salemba, 17 Maret 2007
To:
gnainu_krasivyi@yahoo.com
Halo semua,
Pertengahan Januari lalu, BungaMatahari dilamar oleh Centre Culturel Francais
(Pusat Kebudayaan Prancis) untuk menyelenggarakan Lettera Amorosa : Printemps
des Poetes 2007. Tema utamanya cinta.
Dari meeting internal BuMa, bunga-bunga menyumbangkan sari-sarinya. Antara
lain Anya dengan 'banjir cinta', Esti dengan permen puisi, saya dengan tema
cinta ironis (adoooh, ntar orang kira kisah cinta saya pedih meluluw, hihihi).
Tidak semua orang yang hadir kemudian masuk ke dalam daftar kepanitiaan, tapi
semua menunjukkan antusiasme yang sama. Rapat demi rapat berlangsung selepas jam
kerja. Ada yang datang dengan muka kusut kecapean seperti saya, tapi ada saja
yang tampangnya segar seperti habis mandi. Hebat!
Proposal sederhana dihaturkan ke CCF. Kepanitiaan terbentuk. Yang minat tampil
terus bertambah, walaupun ada juga yang karena satu dan lain hal akhirnya tidak
jadi. Makanan dan minuman ala cafe yang mampu menguras kantong para panitia
namun belum tentu mampu memenuhi tuntutan lambung mewarnai hari-hari rapat.
Beberapa hal penting mundur dari jadwal. Syukurlah hal itu tidak membuat
kegiatan ini kehilangan spiritnya. Permen puisi bisa disebarluaskan. Jejak Puisi
mendapat sambutan yang mengasyikkan. Ada saja memang yang 'nakal', melanggar
aturan maksimal 500kb per foto, sehingga saya musti menyediakan waktu ekstra
untuk me-resized sebelum mengunggahkan foto-foto seru itu ke
printempsdespoetes.multiply.com.
Dalam dua rapat terakhir panitia panitia menggunakan kesempatan itu untuk
menjejakkan puisi bersama-sama. Yang ter'badung' terjadi di Miko Coffee, lumayan
vandal, dada patung juga jadi korban penempelan puisi, hihihi... Tapi untungnya
mas-mas Miko Coffee semuanya asyik, malah ikutan bikin puisi juga.
Masa persiapan sempurna? Tentu tidak. Ada saja kekacauan-kekacauan minor. Yang
jelas, dari pengalaman ini, saya yakin ini BuMa belajar untuk membuat
perencanaan yang lebih mantap lagi dalam kegiatan-kegiatan mendatang.
Hari H! Stasiun Gambir
Acara dimulai lebih lambat dari yang direncanakan. Sementara wartawan-wartawan
sudah siap dengan kameranya. Dag-digdug. Tanpa sadar, bukannya mendatangi para
wartawan, panitia malah 'ngumpet' di balik papan-papan hitam besar. Grogi, bo...
Ternyata 'jiwa seleb' kita saat itu belum benderang. Nirasha, MC andalan kita,
memimpin Elise Mignot, Ardiyan, Aci, Donni dan saya berdoa bersama. Doa memang
manjur menghilangkan resah dan meningkatkan percaya diri.
Setelah Nirasha membuka acara, Kuartet Otak and Chair memanaskan suasana
dengan musikalisasi puisi. Beberapa anak muda belia (semua di BuMa sebenarnya
muda belia, ehem..hem) yang datang setelah mendengar info dari radio
terpana-pana menonton penampilan mereka. Ternyata mereka memang baru kali itu
berkesempatan melihat cara menginterpretasikan puisi di luar hal-hal yang
didapat di sekolah. Mustinya kita juga mengundang guru-guru bahasa, nih...
Ups! Ternyata banyak pembaca puisi sesi pertama yang belum datang selain Ditta
Larasati. Ditta dengan sigap mencopot sepatu, bertelanjang kaki membawakan
beberapa puisi yang baru semalam ia tulis. Maksud hati mau mendatangi audiens,
apa daya kabel mikrofonnya kurang panjang karena terbelit sana-sini. Tapi tidak
masalah, bukan Ditta kalau mati gaya. Sofa pun jadi pilihan setelah bosan
membaca sambil berdiri.
Setelah Ditta, terbitlah Doddy. Melihat penampilan Doddy, siapa sih yang
menyangka kalau dia baru saja datang dari luar kota untuk urusan pekerjaan?
Tampaknya buat kegiatan ini, orang-orang bagaikan punya energi ekstra tanpa
perlu minum doping.
Donni sang Ketua Acara menodong Elise, Ardiyan, Astri a.k.a Aci, Anya dan saya
untuk sedikit ber-talkshow ria. Kurang lengkap rasaya tanpa wakil dari Gambir,
maka kami ajak Humas PT Kereta Api Akhmad Sujadi ikutan ngobrol di sofa. Isinya
seputar mengapa acara ini berlangsung. Setelah itu, tentu saja puisi-puisi
segera berlanjut lagi.
Aurelia Tiara menggandeng Yoshi untuk duet di sofa, membawakan karya dari buku
kumpulan puisinya, "Sub Rosa Poems". Konon puisi-puisi yang lahir di bawah
naungan mawar bermakna rahasia. Ah, sok tahu saya.
Yohannes Sugianto penulis "Di Lengkung Alis Matamu" dan Bocoran, nih,
sebenarnya ada karya Yo yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Dyo
Dias, namun tampaknya hasil terjemahan itu belum tuntas diperiksa hingga hari H.
Batal deh dipentaskan... Versi terjemahan itu akan tetap dicek. Jika beres,
kemungkinan besar akan di-upload ke situs pribadi Yo. Tunggu saja kabarnya.
Elise Mignot juga berani terjun. Elise membacakan satu puisi Prancis. Saat itu
tidak ada yang mendampinginya untuk membacakan terjemahan ke dalam bahasa
Indonesia. Namun penonton tetap antusias, walaupun bingung karena tidak tahu
artinya.
Kadang penampil punya ritual tersendiri. Jorgy misalnya. Pembaca puisi yang
sangat ekspresif ini tidak mau makan sebelum tampil. Menurutnya makan sebelum
tampil bisa mengganggu konsentrasi. Jorgy mengawali penampilannya dengan sedikit
prolog, bahwa ia sulit menulis tentang puisi cinta. Nah, begitu mulai baca,
Jorgy membuat fotografer sibuk membuntutinya. Ia bergerak ke sana-sini,
mendekati penonton, pun fotografer. Ia juga membaca sambil tiduran di sofa.
Lincah amat. Ini aja belum makan, gimana kalau sudah ya.
Sebelum berkeliling ke mana-mana buat inspeksi, saya sempat melihat penampilan
Jimmy Johansyah, seorang seniman yang biasanya bergaul di TIM. Saat itu gayanya
terlihat tenang, tapi kata demi kata yang diucapkan berasa, deh.
Sarat Kejutan
Kejutan pertama muncul ketika giliran Idaman membaca. Ia membawa Bambang
Sugianto! Bambang ini sering sekali berpuisi di depan ribuan orang. 5000 orang
pun ia sudah pernah. Apa rasanya ya ditonton orang sebanyak itu...
Selanjutnya kejutan demi kejutan pun menyusul datang. Hasanuddin, salah satu
porter di Gambir, mendaftarkan diri. Teman-temannya pun berdatangan, menantikan
giliran rekan kerja di ajang baca puisi ini. Sabar sekali beliau menunggu.
Begitu tampil, menggelegar! Semua yang punya kamera langsung maju ke depan
mengabadikan Hasanuddin. Hasanuddin juga masuk dalam berita The Jakarta Post
terbitan 18 Maret 2007.
Olin, salah satu dari trio penulis "Merah Hitam Kesumba" datang. Panitia ingin
ia tampil, tapi saat itu baginya sedang tidak tepat. Maka jadilah Olin peri baik
hati, memberikan bukunya sebagai hadiah untuk salah satu sesi games.
Ivy Batuta datang dengan rok polkadot. Wah, tentu saja panitia segera menodong
Ivy yang suaranya sering terdengar di radio Indika ini. Awalnya, malu-malu,
maunya nonton aja. Lalu..., mulai tertarik dengan lembaran template Jejak Puisi
yang dibagi-bagikan panitia. Lalu mulai duduk. Menonton, menulis, menonton,
termenung, menulis, dan seterusnya. Tahu-tahu, puisinya sudah siap. Isinya
romantis abis! Penonton pun menjerit minta anchor. Nah lho, siap-siap tambah
job, Vy.
Lima anak dari SMU Bina Insani Bogor datang menyumbangkan musikalisasi puisi
dengan gitar dan biola. Merinding... Mereka ini sudah memenangkan lomba-lomba
musikalisasi puisi di Bogor. Ibu Indri, mama salah satu dari lima anak tersebut,
mendengar kegiatan Banjir Puisi. Maka datanglah sang ibu ke Gambir, membawa
serta anak-anak dan guru Bahasa Indonesia.
Pameran & Live Artwork
Pengunjung Banjir Puisi di Stasiun bisa menikmati berbagai karya seni visual
yang berbasis puisi. Henry C Widjaja memajang lima buah foto puisi hitam putih
yang sangat indah, lengkap dengan puisi pendek di setiap foto. Sebagian karya
HCW bisa dilihat di situs
http://www.fotografer.net.
Di bawah foto-foto Mas Henry tertempel beberapa print out Jejak Puisi dalam
ukuran postcard yang dapat dilihat di
http://www.printempsdespoetes.multiply.com
Pada dua papan lain, terpampang 15 artwork. BuMa menerima lebih dari 40 buah
karya dari Jakarta dan Jogja. Karena anggaran pencetakan terbatas, Anto musti
bekerja keras menyeleksi hanya 15 di antaranya. Sesudah tenggat waktu yang
ditentukan, masih ada saja yang berminat mengirimkan karya. Konon, teman-teman
kita ini sulit diajak terlibat dalam kegiatan-kegiatan oleh institusi lain
karena kesibukannya. Tapi buat BuMa, mereka mau. Duuuh, terharunya...
Tiga orang di antara para penyumbang karya, Eko, Anca dan Rya tampil
mengerjakan live-artwork. Selama 4 jam lebih mereka mengubah sebilah papan
bercat putih menjadi karya yang "tres tres tres bien". Bagus bangeeeet. Mereka
sampai berpeluh-peluh mengerjakan karya ini.
Ada beberapa pengunjung yang selain bertanya cara bergabung dengan BuMa,
juga menanyakan cara bergabung dengan komunitas para pengirim artwork. Buat
informasi, para perancang ini berasal dari tim yang berbeda-beda. Ada pula yang
tidak bergabung di komunitas lain. Jika masih penasaran ingin mengintip
karya-karya para penyumbang artwork dan penampil live-artwork, coba kunjungi
situs-situs mereka, antara lain (alfabetik):
Agus Pramono "Cleber" ( www.thecleber.org)
Amenth
( www.theyhatemydesign.net , www.loveisickprojekt.deviantart.com)
Anca ( www.malonahuai.deviantart.com, www.malona-huai.blogspot.com)
Denny Kuswantoro "Kunil" (
http://vektorscksprojekt.deviantart.com,
http://www.vektorsucksprojekt.com)
Eko Priharseno ( www.ekko-art.com , www.ekopriharseno.blogspot.com)
Irax ( www.vector4gift.com, www.luvutu.com)
Satya Hody "idegila" (
http://idegila.blogspot.com)
Audiens
Banyak audiens yang datang khusus Gambir untuk melihat Banjir Puisi. Tidak
sedikit juga calon penumpang KRL yang duduk-duduk menunggu waktu
keberangkatannya. Ketika sedang berkeliling sambil membagikan permen, saya
sempat berbincang-bincang dengan dua alumni ITB yang menikmati acara sebelum
berangkat ke Bandung untuk reuni.
Ada juga yang benar-benar baru saja datang dari Prancis. Habibie yang akrab
dipanggil Hebi baru tiba di bandara Sukarno-Hatta beberapa jam sebelumnya. Ia
naik bis sampai Gambir untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta. Karena
jadwal keretanya masih sangat lama, Hebi menyempatkan diri untuk menikmati
Banjir Puisi di Stasiun. Menurutnya, acara ini sangat asyik, lebih akrab
dibandingkan acara-acara puisi yang berlangsung di Prancis. "Di Prancis lebih
eksklusif," kata Hebi. Yoshi pun ber-parle francais dengan Hebi. Hasilnya, Yoshi
mendapatkan oleh-oleh pin lucu. Rezeki...rezeki...
Saya melihat satu geng yang dari jauh terlihat "bersinar-sinar" saking
enjoy-nya. Ternyata itu geng bawaannya Henry C Widjaja. Hari ini saya menemukan
dua di antara mereka, Yani dan Reno, menuangkan pengalaman di Gambir ke dalam
puisi yang telah di-posted oleh HCW ke milis BuMa. Dalam terasa...
Menjelang acara ditutup, ternyata masih ada yang ingin tampil spontan. Empat
jam yang membuat panitia berpeluh keringat ternyata masih kurang bagi audiens.
Acara Lanjutan
Usai acara di Gambir, sorenya kita pindah ke CCF Salemba. Di sana berlangsung
lomba antar siswa CCF. Waraney mewakili BuMa memberikan sambutan.
Ada juga pembacaan puisi oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Remy Silado. Khusus
untuk BuMa, kita diberikan tempat di taman kecil yang terletak di antara kantin
dan kelas. Asyik juga nih. Karena belum banyak anak BuMa yang datang, maka yang
baca hanya empat orang, yaitu Ditta, Yoshi, saya, dan Jorgy.
Ditta menemukan apa yang dia inginkan ketika di Gambir. Membacakan puisi
sambil mendatangi para penonton. Ditta banyak berpindah tempat dengan gerak
cepat, sehingga terkadang kameramen "kehilangan" Ditta. Ini lucu sekali di
screen.
Yoshi membacakan puisi dari sebuah buku tulis. Diakhir puisi, Yoshi membaca,
"Maka kubuang puisiku." Eh, puisinya dibuang-buang beneran ke rumput! Hihihi...
Setelah berbingung-bingung, akhirnya saya pilih karya Remy Silado dari buku
"Puisi Mbeling" yang baru Yoshi beli. Ini namanya bunuh diri, baca puisi karya
pesohor sementara orangnya ada di situ. Ceritanya berisi nasihat seorang papi
kepada anak lelakinya. Saya kan cewek, tidak bersuara berat pula, jadi
yah...lumayan susah juga bawainnya.
Terakhir Jorgy. Jorgy ini memang engga ada matinya. Dia sempat ragu sanggup
baca puisi lagi sore itu setelah kehabisan energi di Gambir. Tapi ternyata bisa
lho. Bermodalkan sedikit coretan di selembar kertas, Jorgy mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk berekspresi penuh. Berhasil! Abis itu, Jorgy pulang duluan
tanpa menunggu dinner. Capek banget pasti.
Energi Bergaung
Pernah dengar istilah "expected the unexpected"? Jujur saja, panitia dari CCF
maupun BuMa merasa Banjir Puisi di Stasiun itu lebih dari yang diharapkan. Penuh
dengan kejutan. Sangat hidup. Bagi saya, energinya terasa sampai hari saya
membuat tulisan ini, walaupun fisik saya sempat agak ambruk pasca acara sama
seperti sebagian panitia lainnya (untung Senin libur Nyepi).
Sampai hari ini pun di telinga masih bergaung lagu yang dilantunkan Kuartet
Otak and Chair ketika mengiringi Anya berpuisi lantang, "Kabarkan kepada dunia
bahwa aku telah tiba di tepi di mana aku tak bisa kembali lagi."
Terimakasih mendalam, berat, banyak, berlimpah-limpah kepada seluruh:
- Tim panitia dari CCF Jakarta & Buma: Patric Perez, Ardiyan Atmaja, Astri
Onengan, Elise Mignot, Yuli, Yosef Indra, Mouna, Anya, Donni, Nirasha, Widee,
Anto, Ditta, Waraney, Iwan, Setiyo, Zulian, Jack, Sam, Metta, Ida, Mita, Isky,
Nivel, Luka.
- Bunga-bunga BuMa yang bukan panitia maupun penampil, namun punya kontribusi
penting berupa ide atau hal lainnya: Festi, Rainier, Esti, Edo "The Safari",
Ariekotama, Nurman, Ade Tohang. Ada yang kelupaan? Tolong ingatkan saya, yah.
- Pembaca puisi terjadwal. Acha "idiotsupreme", Apriyanti Zuroida, Aurelia
Tiara (penulis buku kumpulan puisi Sub Rosa Poem), Bayu "semalamsayamimpi",
Ditta Larasati, Doddy Nuryadi, Donni Said, Henry C. Widjaja, Idaman Andarmosoko,
Jimmy S. Johansyah, Johannes Sugianto "blue4gie" (penulis buku kumpulan puisi
Di Lengkung Alis Matamu), Jorgy Ibrahim, Pugar Restu Julian "dyingsirens", Sam
"Lord Sam", Viniya M, Yoshi Febrianto "gedongproject", Epri Tsaqib, Henry C
Widjaja,
- Pembaca puisi spontan, antara lain Hujan, Hasanudin porter Gambir, pembaca
puisi dari indosiar.com, Dimas, SMA Bina Insani Bogor, Bambang Sugianto, Ivy
Batuta, Tika "t11ka", Evi Widya Putri, Olivia Kristina Sinaga "buncil", Bonie
pengamen puisi, dan masih banyak lagi yang belum sempat dicatat panitia.
- Kuartet Otak and Chair (Aan, Acha, Iksan, Uga) yang bersedia tampil dua
kali, datang pun termasuk yang paling pagi. Profesional, baik hati, gagah
perkasa (bantuin angkat-angkat properti).
- Penampil karya visual.
Henry C Widjaja dengan foto-fotonya yang indah, yang sangat "menikah" dengan
puisi pendeknya. Plus kata-kata pembakar semangatnya. Terimakasih!
Rya A. Yunnianto, Malonahuai "The Congors", Denny Kuswantoro "Kunil", Eko
Priharseno, Irax, Satya "idegila", Agus "Cleber", Amenth, Loveisick & Jogja
Project yang telah mengirimkan lebih dari 40 artwork. Trio Eko-Aria-Anca yang
sepanjang acara sibuk membuat live artwork. Kerrren banget. Ba nyak peminatnya,
lho...
- Lima anak BuMa yang puisinya telah dipilih oleh CCF dari Antologi Bunga
Matahari untuk diterjemahkan ke bahasa Prancis: Danar Allstars, Deddy Krezno,
Indah IP, Syahfida, dan untukmemilikimu.
- Media massa cetak dan elektronik, blog-blog pribadi, milis-milis, segala hal
yang turut mempromosikan dan meliput kegiatan ini
- Yang mengirimkan JejakPuisi.
- Yang datang dan menikmati Banjir Puisi di Stasiun Gambir.
- Dukungan teman-teman walaupun mungkin berhalangan hadir.
- Kepada seluruh sponsor kegiatan (mitra-mitra CCF)
- Terimakasih juga buat juga bosku Tina Rani di Sixtosix CommuniQue yang
bersedia ikutan JejakPuisi dan membolehkan saya pergi-pergi di jam kerja untuk
mengurus persiapan kegiatan Printemps des Poetes 2007.
Pasti tulisan ini jauh dari lengkap. Yang lain, yuk berbagi cerita.
Membanjir salam hangat,
Yuni
PO dari BuMa untuk Printemps des Poetes 2007
NB:
1. Kalau ada yang menemukan amplop putih ukuran A4 berisi puisi, dan sebuah
plastik berisi sedikit permen dan beberapa lembar template JejakPuisi yang telah
ditulisi, tolong hubungi saya di
gnainu_kraisvyi@yahoo.com,
yuni.anggreini@gmail.com, dan (021) 980 22 416.
2. Kalau ada yang telah mengambil Antologi Bunga Matahari di Gambir tapi lalai
membayarnya, tolong hubungi Anya di
g.c.rompas@gmail.com,
anya@bungamatahari.org, dan 0816 114 7962.
Terimakasih sekali.
---------------------------------
The fish are biting.